Archive for the ‘Budaya Jepang & Indo’ Category


J-Dorama: Love Generation

Posted in: Budaya Jepang & Indo,Dorama & Film |

Pernah nonton J-Dorama Love Generation (ラブジェネレーション Rabu Generashon)? Dorama ini dimainkan oleh Takuya ‘Kimutaku’ Kimura (Katagiri Teppei) dan Matsu Takako (Uesugi Riko). Sebelumnya mereka juga bermain bersama dalam film Long Vacation. Film ini sudah lama sekali ditayangkan di Jepang sana, hampir 11 tahun lalu, tepatnya 13 October 1997 hingga 22 December 1997 setiap hari Minggu dan di Indonesia sendiri pernah di tayangkan di salah satu stasiun tv swasta yang kala itu gemar menayangkan dorama Jepang. Ceritanya yang menarik dan tokoh-tokohnya yang benar-benar mendalami perannya menjadikan dorama ini sebagai dorama favorit saya. Sampai-sampai saya bela-belain mendownload torrent-nya sebesar 3-4 GB.

Love Generation: Teppei dan Riko.

Love Generation: Teppei dan Riko.

Dari judulnya kita sudah bisa menebak tentang apa dorama ini. Cerita ini mengisahkan tentang hubungan Teppei dan Riko yang merupakan teman sekantor. Dikisahkan Teppei adalah designer handal dan populer di kalangan cewek, tapi cara bekerjanya yang terkesan egosentris, akhirnya dia dipindahkan ke bagian sales. Disinilah cerita kemudian berkembang, dari bagaimana dia bekerja di departemen yang benar-benar awam baginya, hingga bertemu dengan Riko yang kemudian kerap membantunya bekerja. Awalnya mereka berdua tidak begitu akur, tapi lama kelamaan Riko pun ada hati ke Teppei. Hanya saja, Teppei masih saja menyukai mantan pacarnya semasa SMA, Sanae. Setelah lama tidak bertemu, akhirnya Teppei dipertemukan dengan Sanae, dan tidak disangka-sangka ternyata Sanae bertunangan dengan kakaknya, Soichiro. Akhirnya, terjadi cinta segitiga di antara mereka. Hubungan Teppei dan Riko yang baru saja dimulai, diperkeruh dengan adanya salah paham, dimana Sanae menyadari bahwa sebenarnya dia juga masih menyukai Teppei, Soichiro pun juga mempunyai affair dengan wanita di masa lalunya. Disinilah klimaks cinta Teppei dan Riko diuji.

Saya tidak ingin memberikan spoiler, jadi silakan menonton sendiri. Bagi saya, dorama ini sangat layak untuk ditonton, walaupun usianya sudah lama sekali. Cerita yang sedemikian rupa dikemas sederhana dan selalu berisi dan bermakna tiap episode-nya ditunjang oleh aktor-aktris yang selalu mendalami perannya. Suki da ne!! (nggak kayak sinetron indonesia, full basa-basi nggak jelas makna dan topiknya, kalau saya perhatikan nggak ada maknanya karena melenceng jauh akibat panjangnya episode, semoga anak-anak tidak teracuni oleh tayangan-tayangan tidak bermutu)

The crystal apple makes frequent appearances throughout the series.

Crystal apple

Dalam apartemen Teppei terdapat banyak barang-barang yang “tidak biasa” seperti artifak Thai berupa patung wanita, dan ketika Riko pertama kali melihatnya dia begitu terkesan dan memegang bagian *maaf seribu maaf* dadanya hehehe. Ada juga kulkas berumur 30 tahunan (berarti kalau sekarang sudah 40 tahunan) yang tidak lagi dibuat, dan yang paling sering muncul adalah apel kristal. Arti sesungguhnya dari apel ini adalah hanya ada satu cinta sejati, antara Nabi Adam dan Hawa. Kristal sendiri sangatlah rapuh dan mudah pecah, dan ketika seseorang melihat ke dalamnya, dia akan akan melihat semuanya terbalik. Apel ini terlihat terbalik pada episode 10-11. Dan pada episode terakhir, apel ini tidak lagi terbalik. Selain itu di dalam cover album Love Generation juga ditampilkan apel kristal ini.

The advertising board in Love Generation features Ryo from Long Vacation, a 1996 drama in which Kimura and Matsu starred.

True love never runs smooth

Papan reklame di Love Generation yang menampilkan Ryo dari Long Vacation (yang juga dimainkan oleh Kimutaku dan Matsu)

Papan reklame ini selalu muncul, seorang model yang memegang kristal apel, dan tertulis “True love never runs smooth” menyimbolkan hubungan antara Riko dan Teppei, yang mengharuskan mereka berdua berjuang dari pertama kali bertemu hingga cinta segitiga yang terjadi antara Teppei, Sanae, dan Riko. Reklame ini juga terpampang dimana-mana, dari taman hingga di kulkas 30 tahun milik Teppei, dan “True love never runs smooth” menjadi motto tidak resmi dari dorama ini.

Setelah saya mencari tahu, kalimat ini awalnya dari William Shakespeare, tahun 1595. Berikut ini ceritanya yang dicuplik dari Trivia-Library

The Story behind It: This familiar quote comes from A Midsummer Night’s Dream. Hermia, the heroine, wants to marry Lysander, but is forbidden to do so by her father. The Duke of Athens, Theseus, is also against the marriage and tells Hermia that she must marry her father’s choice, Demetrius, or she will be either locked up in a nunnery or killed. In the first scene of Act I, Lysander consoles Hermia:

Aye me! For aught that I could ever read, Could ever hear by tale or history, The course of true love never did run smooth.

Hermia and Lysander ultimately are wed, after an interesting night in the local forest and an encounter with Oberon and Titania, the king and queen of the fairies.

 _

_

Judul Episode dan Rating

  • Ep 01: 「新しい自分と運命の恋に出会うとき」
  • Ep 02: 「恋に落ちる瞬間」
  • Ep 03: 「涙雨に濡れた贈り物」
  • Ep 04: 「愛のない一夜」
  • Ep 05: 「キス、キス、キス」
  • Ep 06: 「愛の混浴露天風呂」
  • Ep 07: 「幸せの次に来る事」
  • Ep 08: 「突き刺さる愛の破片」
  • Ep 09: 「別れ」
  • Ep 10: 「東京ラストデート」
  • Ep 11: 「この恋のために、生まれてきた」
  • Ep 01: 31.3%
  • Ep 02: 30.1%
  • Ep 03: 29.0%
  • Ep 04: 30.8%
  • Ep 05: 28.6%
  • Ep 06: 30.8%
  • Ep 07: 30.3%
  • Ep 08: 29.4%
  • Ep 09: 32.5%
  • Ep 10: 32.3%
  • Ep 11: 32.1%


Penghargaan

Download


 .

 


Konbini – Japanese Convenience Store

Posted in: Budaya Jepang & Indo |

Konbini sebenarnya berasal dari Convenience Store, yang bila dituliskan dengan huruf katakana menjadi konbiniensu sutoa, tetapi hanya diucapkan menjadi konbini. Konbini ini merupakan mini market atau supermarket kecil dengan sistem self-service. Bangunan ini dilengkapi dengan ea-kon (AC) dan banyak rak dan freezer untuk menempatkan barang-barang. Perbedaan antara konbini dengan supermarket adalah adalah variasi barang dan jasa yang tersedia, harga barang yang lebih murah, cara pembayaran, luas bangunan yang lebih sempit dengan kisaran 30-250 m2, sistem penjualan, jam operasional, dan pendistribusian.

Konbini mempercayakan pada apa yang dinamakan POS (Point of Sale) system. Umur dan jenis kelamin pengunjung, apa yang dibeli, seperti layaknya prakiraan cuaca keesokan harinya, merupakan data yang penting. Setiap pesanan dan penentuan dibuat secara online. Sebagaimana luas bangunan yang terbatas, konbini harus selektif dalam memilih merk barang yang akan dijual. Dengan adanya sistem ini misalnya barang yang sedang trend dapat diketahui sesuai data-data pembeli, sehingga barang bisa ready stock. Misalnya juga, apabila ramalan cuaca meramalkan udara akan dingin pada sore harinya, maka pusat akan mengirimkan lebih banyak minuman dan makanam panas.

Biasanya barang yang disediakan di konbini antara lain:

  • Makanan, seperti makanan sampingan, mie instan, kopi instan, bento (seperti spaghetti dan nasi kare), nasi kepal (onigiri), makanan beku, oden, baozi, roti, minuman, seperti susu, minuman berenergi, snack, permen dengan mainan, es krim, bumbu-bumbu, makan kucing-anjing, dan sebagainya.
  • Serba serbi, seperti kosmetik, produk kewanitaan, sabun, sampo, pakaian dalam, payung, baterei, lampu, tisu, tisu toilet, dan kondom.
  • Persediaan untuk kantor, seperti kartu pos, perangko dan meterai, dan alat-alat tulis.
  • Produk hiburan, seperti CD, DVD, kaset, video game, kembang api (tersedia saat musim panas), majalah (termasuk manga), koran, serta buku.
  • Kurir atau layanan pos/kirim.
  • Fotokopi serta layanan fax.
  • ATM untuk berbagai bank.
  • Layanan pembayaran rekening, seperti rekening telepon, listrik, gas, air, NHK, pajak, asuransi kesehatan, uang pensiun, dan asuransi kendaraan.

Beberapa toko juga menjual:

  • Minuman beralkohol, rokok, obat, pembersih contact lens.
  • Pembelian tiket seperti tiket konser, film, taman safari/hiburan, penerbangan, serta bus.
  • Layanan ATM seperti kartu kredit atau keuangan pengunjung.

Dengan segala fasilitas yang disediakan oleh konbini, pengunjung benar-benar dimudahkan. Pengunjung dapat membayar rekening, membeli tiket, membeli makanan, dan sebagainya dalam satu tempat. Layanan pada tahun-tahun terakhir ini adalah ATM. Konbini bekerjasama dengan bank-bank atau bahkan membuka bank tersendiri, sehingga kita tidak perlu bingung menghitung budget sebelum keluar. Bahkan banyak bank yang akhirnya menutup cabang-cabangnya karena kalah banyak dengan jumlah ATM konbini itu sendiri. Jid?nhanbaiki (vending machine)  juga terdapat di dalam atau luar konbini. Selain itu, jika kita membeli mie gelas, kopi sachet atau sejenisnya, tersedia dispenser air panas hingga anda dapat dengan segera menikmatinya. Jika membeli sandwich atau bento yang sudah dingin karena AC dan freezer pun, kita dapat langsung menghangatkannya dalam microwave yang juga tersedia di dekat kasir.

Selain itu pelanggan juga semakin dimanjakan dengan adanya fasilitas e-commerce alias order melalui internet. Proyek ini dikerjakan oleh beberapa konbini besar yang punya jaringan luas seperti Lawson bekerjasama dengan beberapa produsen makanan, minuman, dll dan juga perusahaan telpon seperti NTT Docomo dan NEC yang punya fasilitas internet pada keitainya. Misalkan kita sedang surfing suatu wesite makanan tertentu dan tertarik, biasanya pada site tersebut juga ada icon Lawson dan jika di klik, maka kita akan disuruh mengisi form mengenai barang apa pada web tadi yang ingin di pesan, ingin dibayar sekarang secara kredit atau bayar nanti. Uniknya, jika bayar nanti, kita masih akan ditanya ingin diantar atau ambil sendiri. Jika pilih ambil sendiri akan ada pertanyaan konbini Lawson mana yang terdekat dengan posisi kita dan kapan barang tersebut diambil (tersedia popup peta lokasi yang bisa kita pelajari untuk mengetahui posisi Lawson terdekat) serta apakah kita ingin membayar pakai kredit card atau cash. Jadi sewaktu kita berangkat atau pulang sekolah atau kerja, kita dapat sekalian mengambil barang pesanan kita. Jika pesanan kita butuh waktu beberapa hari , maka email  pemberitahuan bahwa barang telah tersedia akan dikirimkan pada kita. Tak sampai disitu, kerjasama yang dilakukan konbini mulai merambah ke dalam kampus, stasiun, hotel pemandian umum, dan tennis court.

Konbini mempunyai jam operasional minimal 14 jam bahkan ada yang nonstop.  Hal ini sangat berguna dan praktis, apabila di kala malam kita kita membutuhkan obat demam, sekaligus mendinginkan saat terik matahari di kala natsu sembari makan es krim.

Layanan dan fasilitas dalam satu atap ini merupakan salah satu jawaban dari kebutuhan masyarakat Jepang yang benar-benar menghargai waktu dan efektivitas dari segala segi. Bayangkan dengan Indonesia dimana kita harus melakukan semua hal itu di tempat yang berbeda dan berjauhan belum lagi ongkos yang dikeluarkan juga lebih banyak. Kita masih harus banyak belajar dari berbagai kota maju tetapi sekaligus belajar mengatasi dampak negatif dari kemajuan tersebut sebelum kemajuan itu malah memberi kemunduran bagi yang mencontoh karena ketidaksiapan dalam segala hal.

 


Budaya ponsel Jepang

Posted in: Budaya Jepang & Indo |

Di Jepang, ponsel atau yang dikenal dengan keita denwa (singkatnya keitai) ada dimana-mana. Banyak orang di Jepang mempunyai ponsel, yang sebagian besar sudah dilengkapi dengan banyak kemampuan, seperti video dan camera berkualitas tinggi. Penggunaan dan kebutuhan yang meningkat menjadikan perkembangan ponsel sebagai budaya ponsel atau keitai culture.

Banyak ponsel mempunyai kemampuan antara lain:

  • E-mail
  • database yang dapat dikonfigurasi
  • phone and address books
  • alarm clocks and stopwatches
  • Live Video feed via Piconet
  • Mobile games, contohnya role-playing games seperti Dragon Quest atau Final Fantasy
  • Daytimers
  • berbagai kemampuan untuk image enhancement, seperti pilihan membuat borders, membuat animations, dan sebagainya.
  • Instant Messenger
  • Calculator, calendar, schedule note and memo pad
  • Memainkan musik yang telah di download
  • Merekam dan memainkan suara, musik, dan gambar
  • Portable music player (MP3 player etc.)
  • Portable video player (MP4 player etc.)
  • Panggilan Video
  • Navigasi GPS
  • Menonton TV (1seg) dan mendengarkan radio (FM/AM)
  • TV phone
  • Penanggulangan kejahatan (buzzer, dengan laporan langsung ke polisi secara otomatis)
  • Pedometer
  • ‘Read aloud’ system
  • Touch-pad system
  • A fingerprint/face certification system untuk perlindungan data personal
  • Mobile centrex service dengan wireless LAN

Beberapa tahun terakhir beberapa ponsel mempunyai kemampuan untuk digunakan debit atau kartu kredit yang dapat digunakan untuk membeli di berbagai tempat seperti membeli maskara hingga tiket pesawat terbang. Fungsionalitas ini antara lain:

  • Layanan E-money dan berbagai fungsi sertifikasi melalui Untouched IC card (seperti FeLiCa)
  • Berbagai layanan dengan Osaifu Keitai (ponsel dengan fungsi sebagai wallet) dari NTT DoCoMo
  • Layanan E-money seperti Edy
  • Mobile Suica yang dapat digunakan untuk membeli tiket kereta
  • Cmode: vending machine yang dapat digunakan dengan QR Code dan ponsel Osaifu-keitai

Beberapa ponsel terbaru dapat digunakan untuk menonton film/televisi melalui ponsel. Kebanyakan koneksi ponsel ke internet melalui layanan seperti i-mode. Jepang juga yang pertama kali meluncurkan layanan 3G dengan skala yang luas. Layanan yang populer digunakan adalah mengecek jadwal kereta dan rencana perjalanan menggunakan public transit.

Penggunaan Ponsel

Percakapan menggunakan ponsel di dalam bus atau kereta tidak disukai, dan dipesan agar penumpang tidak melakukan panggilan dan mengganti profile ke silent mode (“public mode” atau “manners mode”). Email sangatlah populer untuk segala usia, hal ini dikarenakan murahnya per pesan yang memperbolehkan 10.000 karakter per pesan dengan adanya karakter spesial, emoticons, gambar, animasi kecil, dan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris dan Jepang.

Pager digunakan pada akhir 1980 dan 1990 sebelum adanya ponsel. Pager ini hanya dapat menampilkan angka dan digunakan untuk mengingatkan pemiliknya bahwa dia mendapat panggilan dari nomer telepon tertentu, tapi kemudian remaja mulai menggunakan angka untuk berkomunikasi mulai dari salam hingga emotions. Kebanyakan didasarkan dari berbagai cara membaca angka dalam bahasa Jepang, contohnya adalah:

  • 4-6-4-9 dibaca yo-ro-shi-ku (“hello”, “regards”)
  • 3-3-4-1 dibaca sa-mi-shi-i (sabishii berarti “i feel lonely”)
  • 8-8-9-1-9 dibaca ha-ya-ku-i-ku (hayaku iku berarti “hurry up, let’s go”)
  • 3-9 dibaca san-kyu (SANKYU berarti “thank you”)

 


Futon ~Japanese Matras~

Posted in: Budaya Jepang & Indo |
Futon

Futon

Futon merupakan matras tradisional yang biasa dipakai oleh masyarakat Jepang untuk tidur. Walaupun sudah banyak masyarakat Jepang yang memakai kasur, beberapa orang lebih senang menggunakan futon. Bagi mereka yang tinggal di rumah terutama di Apato, akan lebih memilih menggunakan futon karena ketersediaan ruang yang besar.

Futon ini mempunyai ketebalan kira-kira 5 cm (2 inchi). Biasanya futon dijual seperangkat yang terdiri dari Shikibuton (alas futon), Kakebuton (matras), Makura (bantal). Set seperti ini biasanya dijual seharga kira-kira 10.000 yen. Shikibuton merupakan lapisan tipis yang didalamnya diisi dengan kapas atau sintentis yang dibungkus dengan kain (semacam selimut untuk musim dingin). Kakebuton biasanya diisi dengan bulu angsa, ringan, nyaman namun juga merupakan bagian yang termahal dari futon. Penggunaan kakebuton sendiri disesuaikan dengan musimnya. Pada musim dingin, digunakan kakebuton yang tebal sedangkan pada musim panas digunakan kakebuton yang tipis. Makura adalah bantal yang berisi biji-bijian atau manik-manik dari plastik. Bagi yang tidak terbiasa dengan bantal ini, dapat diganti dengan bantal biasa yang berisi kapas atau bulu angsa.

Futon ini didesain untuk digelar di atas lantai tatami. Biasanya karena Apato tidak memiliki ruang yang luas maka pada siang hari futon disimpan dalam oshiire (lemari), dan ruangan pun beralih fungsi menjadi ruang kerja atau ruang tamu. Selain itu hal ini dilakukan agar tatami dapat “bernafas”. Oshiire ini terdiri dari dua pintu yang dapat didorong. Sebagai catatan, menginjak atau berjalan di atas futon dianggap tabu untuk masyarakat Jepang. Untuk pemeliharaannya biasanya dua minggu sekali atau satu bulan sekali dijemur, sedangkan pada musim hujan karena kelembaban di Jepang cukup tinggi, diantara kakebuton dan shikibuton biasanya diselipkan futon kansouki yang berfungsi sebagai pemanas sehingga futon tidak basah karena lembab. Masyarakat Jepang biasanya ketika menjemur futon juga menebah dengan penebah yang biasanya terbuat dari bambu. Menurut ahli kesehatan tidur diatas futon ini lebih sehat daripada tidur diatas kasur yang empuk, karena kerasnya lantai sangat baik untuk punggu kita terutama bagi mereka yang memiliki sakit punggung dan pinggang.

 


Festival Di Jepang

Posted in: Budaya Jepang & Indo |

Festival di Jepang merupakan acara tradisional yang berhubungan dengan perayaan tertentu. Beberapa festival mempunyai asal-usul dari festival yang juga awalnya ada di China tetapi telah mengalami perubahan dramatis dengan tradisi lokal.

Beberapa malahan benar-benar berbeda yang tidak memiliki kemiripan dengan festival “aslinya” walaupun memiliki nama dan waktu yang sama. Terdapat pula beberapa festival lokal (seperti Tobata Gion) yang bahkan tidak diketahui di luar prefektur lain.

Masyarakat Jepang pada umumnya tidak merayakan Tahun Baru China~karena telah tergantikan oleh Tahun Baru Barat pada akhir abad 19~, tetapi warga China yang bertempat tinggal di Jepang masih merayakannya. Di Yokohama, terdapat pecinan terbesar di Jepang, dimana turis dari segala penjuru di Jepang datang untuk menikmati perayaan tersebut. Hal ini juga mirip dengan festival lampion di pecinan Nagasaki.

Festival biasanya terdiri dari satu atau dua acara utama, dengan stan-stan makanan, pertunjukan, permainan untuk membuat pengunjung tetap betah dan terhibur.

Matsuri

Matsuri berarti festival atau hari raya. Di Jepang, festival biasanya disponsori oleh kuil ataupun diadakan bukan yang bersifat kepercayaan. Biasanya setiap daerah memiliki setidaknya satu matsuri di akhir musim panas atau awal musim gugur, kadang berhubungan dengan panen.

Kita dapat menemukan stan-stan di sekitar matsuri yang menjual souvenir atau makanan seperti takoyaki, atau yang menyediakan permainan seperti menangkap ikan koki. Selain itu ada juga kontes karaoke, pertandingan sumo, dan hiburan-hiburan lain yang tersedia.

Berikut ini beberapa festival yang terkenal di Jepang

(more…)

 


 

 

Share

Subscribe Feed

Facebook

Delicious

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart