Kampanye UNICEF, Hentikan Sakiti (Lagu, Tontonan) Anak-Anak

Posted in: Budaya Jepang & Indo,Tren Hidup |

Change your Facebook profile picture to a favorite cartoon/anime from your childhood and invite your friends to do the same. Until Monday (Dec. 6) there should be no human faces on Facebook, but an invasion of memories. This is in support for stopping violence against children – UNICEF

Digimon

Digimon

Digimon

Yah, mungkin terdengar konyol kampanye UNICEF untuk merubah profile picture FB dengan tokoh kartun/anime ketika kecil dulu, tapi sesungguhnya hal konyol atau sederhana sangat berarti. Mengingatkan kita betapa pentingnya kebahagiaan masa kecil, melihat anime, berimajinasi, relaksasi dari semua kegiatan seharian penuh yang cukup melelahkan. Setiap anak berhak mendapatkan imajinasi dan inspirasi kreatifitas. Hilangkan semua persepsi menakutkan atas hidup yang menakutkan, buruk, kejahatan, perang, dan lain sebagainya. Tampilkan warna-warna cerah beragam untuk anak-anak kita. Sudahkan kita?

Sayangnya kalau melihat di sekitar kita, banyak sekali kekerasan di sekitar kita. Kekerasan baik itu secara fisik, psikologis, dan lain sebagainya. Saya melihat rasanya anak-anak tidak lagi mendapat ruang gerak yang tepat untuk mereka. Mereka tidak dapat lagi berimajinasi tentang hidup yang menyenangkan.

Rurouni Kenshin

21 Emon

Sekecil itu sudah terbelenggu oleh lagu-lagu cinta picisan, patah hati, selingkuh orang-orang dewasa, lagu cemen, mendayu-dayu atau geje ala Keong Racun. Kemana lagi lagu-lagu anak-anak seperti yang dinyanyikan Sherina, Trio Kwek-Kwek, Enno Lerian, Tina Toon, Bondan P. dan lain sebagainya. Yang ada sekarang fisik secara anak-anak tapi lagunya minta ampun gejenya. Kemana perginya penyanyi cilik yang berlaku layaknya anak kecil normal? Kemana perginya pencipta  lagu anak-anak (atau mungkin sudah tiada semua)?

Film atau acara televisi yang ditayangkan pun sudah sedikit lagi yang bermutu. Saya rindu (bahkan ingin menonton) acara-acara anak-anak waktu kecil dulu, paling suka Sesame Street karena di situ  diajarkan lagu-lagu, kreatifitas, dll. Sekarang yang ada hanya tontonan yang sebenarnya tak layak tonton. Acara anak-anak sudah hampir tak ada lagi, diganti sinetron-sinetron penuh kepalsuan, kekerasan, klenik, dan kebusukan. Yang dipikirkan oleh orang-orang itu hanya rating dan uang hasil iklan. Kemana perginya sutradara, tim kreatif acara anak-anak?

Dragon Ball

Waktu saya kecil saya sangat suka dengan anime, dari Dragon Ball, Digimon, Rurouni Kenshin, Sailor Moon, dan masih banyak lagi. Semuanya menyenangkan. Memberikan inspirasi dan kreatifitas, mengajarkan apa yang terkadang tidak bisa diajarkan oleh orang dewasa. Semua tampak sederhana dan menyenangkan. Berbeda dengan sekarang, andaikata anak saya sampai menonton sinetron, pasti saya pecahkan televisi di rumah saya. Mending dia nonton tv kabel saja, tanpa iklan, lebih bermutu karena ada acara anak-anaknya, acara-acaranya juga lebih berkualitas. Jangan memberi uang kepada mereka-mereka yang hanya peduli rating dan uang iklan.

Bagaimana bisa anak-anak penerus bangsa diminta untuk nasionalis? Acara yang disukai anak-anak saja tidak ada, alih-alih menyukai produk luar (termasuk saya juga, tapi saya tetap memilih Indonesia), seperti Naruto, Upin-Ipin, dll. Terus mau dibawa negeri ini?

Kita, orang dewasa harus berpikir dewasa walau kedewasaan itu seakan-akan kekanak-kanakan namun penuh imajinasi untuk anak-anak demi mereka semua yang masih punya masa depan. Atau memang masa kecilmu tidak bahagia sehingga tidak tahu bagaimana atau menginginkan anak-anak sekarang tidak bahagia?




Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart