Hari Kebangsaan Nasional 2008, Apa yang Akan Anda Lakukan demi Bangsa & Negara??

Posted in: Diariku |

Kemarin pada tanggal 20 Mei 2008, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Saya tidak membahas tentang sejarah hari yang ditasbihkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional ini, melainkan tentang kesan peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang tepat sudah berusia 100 tahun dan tentang bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia menyikapinya.

Peringatan atau (mungkin juga perayaan :p ) Hari Kebangkitan Nasional 2008 ini ditayangkan diseluruh stasiun tv nasional dan 50 stasiun lokal (sebagaimana tertera di creditnya) serta di stasiun radio (jika tidak salah baca). Awalnya saya sendiri menunggu seri Suami-Suami Takut Istri, tapi ternyata tidak ada dan diganti peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional, saya pun menontonnya dan tidak disangka sampai habis. Impresi awal, meriah sekali dan jarang-jarang ada peringatan nasional seperti ini. Setelah saya pikir-pikir dan saya rasakan, rasanya seperti perayaan budaya/festival Jepang. Di perayaan ini ditampilkan tari-tarian tarian dari seluruh Nusantara, awalnya Serambi Mekkah Aceh hingga Papua disini saya merasa seperti melihat festival tarian tradisional Jepang (odori ??), ada juga akustik dan perkusi (atau apalah itu namanya saya lupa hehehe) disini saya jadi ingat musik instrumental tradisional ala Kitaro dengan taiko-nya, serta ada juga ondel-ondel, reog yang mengingatkan saya akan barongsai (bila di Jepang seperti Shishi-mai).

Saya pikir-pikir dengan adanya keragaman sejarah dan budaya ini seharusnya Indonesia bisa maju dalam dalam sosio-budaya terutama pelestariannya. Di Jepang sendiri, festival budaya baik itu yang berhubungan dengan mitos/legenda, keagamaan, dll selalu diadakan tiap tahunnya demi melestarikan budaya sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Di Indonesia sendiri saya sangat jarang menemui hal ini, bahkan orang-orang sekarang mulai melupakannya dan menganggapnya kuno. Wayang kulit, wayang orang, ketoprak, dll dianggap kesenian pinggiran, berbeda dengan Kabuki di Jepang, yang sangat dijaga baik-baik. Bahkan untuk menjadi artis Kabuki sendiri “harus” berasal dari keturunan keluarga Kabuki, walaupun dia sangat bagus dalam Kabuki tetapi tidak berasal dari keluarga Kabuki rasanya akan sulit untuk menaiki tangga ketenaran di dunia Kabuki. Di Rusia sendiri yang sekarang menjadi negara maju (Jawa Post, 23/5/2008) karena menjunjung tinggi nasionalisme nya (walau mungkin juga terdengar seperti chauvinisme) mereka benar-benar menggunakan bahasa Rusia dengan tulisan Siliriknya dimana-mana, bahkan franchise McDonald, Pizza Hut, menunya, dll pun ditulis dengan tulisan Silirik (bayangkan bila jadi MakDonal atau Piza Hat). Orang sana juga lebih menghormati bahasa mereka sendiri, bahkan walau mereka bisa bahasa Inggris mereka juga ada yang pura-pura tidak bisa, berbeda sekali disini yang kadangkala apa-apa dibahasa Inggriskan (malah ada yang sok keminggris) dan kita lebih menganak-emaskan orang barat serta menganak-tirikan bangsa sendiri :( .

Dari sini bisa kita lihat generalisasinya, negara yang (mau) besar dan maju adalah negara yang mau menjunjung negara dan bangsa itu sendiri. Mulai dari menggunakan bahasa dengan baik dan benar, membeli menggunakan produk dalam negeri, hargai negeri sendiri, dan sadar untuk memajukan negeri sendiri (jangan cuma demo aja, gunakan waktu untuk yang lebih baik). Jepang sendiri menjadi negara maju setelah mereka menutup diri dan mau berusaha sendiri sehingga harga-harga melambung tinggi terutama karena politik damping, dimana harga di dalam negeri lebih mahal daripada harga di luar (jika saya tidak salah). Indonesia yang bisa dikatakan harga BBM nya paling murah (menurut saya semua barangnya murah, dibandingkan ketika saya ke Singapore dan Australia yang dimana-mana mahal menurut kurs Rupiah) masih saja demo dimana-mana. Jika ingin maju, kenapa tidak berani mengambil resiko sekarang? bila sekarang miskin dan besok bisa menjadi kaya dengan berubah sedari sekarang itu jauh lebih baik daripada miskin terus-terusan dan tidak bisa mengubah nasib keturunan. Yah, itu semuanya tergantung dari kita menyikapinya. Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, bila mereka tidak berusaha sendiri untuk mengubahnya. Then, what will you do next ???




Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart