- Hikaru {Aka} Yuuki のブログ - https://www.hikaruyuuki.com -

Film Kartun, Kedewasaan dan Kekanakan


Happy Tree Friends - Kartun Imut Tersadis

Happy Tree Friends - Kartun Imut Tersadis

Fenomena yang merambah kalangan mahasiswa terutama cowok yang terkadang bikin geleng-geleng adalah menonton film kartun atau anime (kartun Jepang). Kenapa tidak, kartun pasti digolongkan sebagai tontonan anak-anak, apabila seseorang yang menginjak dewasa dengan patokan umur seperti mahasiswa atau bahkan lebih tua menonton anime pasti akan dianggap orang itu kekanak-kekanakan. Beda lagi apabila orang itu melihat film-film non kartun, pasti akan dianggap tidak kekanak-kanakan, apalagi bila menonton tayangan “dewasa” akan dianggap wajar dan dalam benak “wah, ternyata sudah gedhe n dewasa nih orang”.

Persepsi, pandangan, patokan kedewasaan orang terkadang bisa salah bila melihat hanya dari satu sisi, umur berapa dan apa yang ditonton. Intinya seperti kalimat mutiara klasik “don’t judge the book by its cover”.

Bila anak kecil menonton anime maka dianggap wajar. Padahal belum tentu hal itu wajar, anime juga ada yang diperuntukkan orang dewasa, dengan konten yang biasa disebut ecchi atau hentai. Sekilas, apabila kita tidak benar-benar mengontrol tontonan anak-anak kita, bisa saja yang ditonton itu ternyata hentai, walau dengan balutan kartun. Intinya, tidak semua kartun bisa dikonsumsi oleh anak-anak hal ini dikarenakan perbedaan kultur, sosial, agama, sejarah, dan berbagai perbedaan lain di negara pembuat film kartun tersebut. Konten mana yang dapat ditonton, berisi kekerasan kah, berisi kevulgaran kah, ucapan-ucapan tak semestinya kah, sudah seharusnya menjadi tugas orang yang lebih dewasa lah untuk mendampingi anak-anak dalam menonton film kartun yang akan menentukan perkembangan mental anak.

Remaja yang dalam peralihan biasanya mulai meninggalkan film-film kartun dan beralih ke arah film non kartun. Di masa ini mereka biasanya berusaha mengeksplorasi apa yang ada di luar sana. Mulai menginjak ke dunia realita dan meninggalkan dunia fantasi mereka. Hal ini sebenarnya wajar-wajar saja. Kewajaran ini tapi bila tidak dikontrol juga bisa menjadi ketidakwajaran. Mulai sembunyi-sembunyi mencari tahu, ada apa di dunia nyata, ada apa di dunia orang dewasa. Tidak sedikit remaja yang sudah mengenal tentang blue film atau hentai ketika menginjak masa-masa SMP. Oleh karena itu, filter kultur, sosial, dan agama sangatlah penting supaya tidak kebablasan di usia rawan ini.

Always Sunset on 3rd Street (Always Zoku San Chome no Yuuhi) - Film Sarat Kehidupan Adaptasi Komik dari Ryōhei Saigan

Always Sunset on 3rd Street (Always Zoku San Chome no Yuuhi) - Film Sarat Kehidupan Sederhana dan Miskin Rakyat Jepang Adaptasi Komik dari Ryōhei Saigan

Usia dewasa biasanya benar-benar jarang menonton bahkan sebagian menolak menonton film kartun. Merasa sudah dewasa dan tidak sesuai lagi dengan umurnya, mereka pun mentah-mentah menolak tanpa menelaah. Justifikasi dini seperti inilah yang bisa dibilang salah. Bila ditelaah film kartun itu lebih mudah dimengerti, sederhana, lebih sarat pesan moral, tidak berbelit-belit (seperti sinetron), cerah penuh warna di mata, dan banyak kartun yang menyenangkan dan lucu-lucu. Seseorang bisa lebih terbentuk kedewasaannya, kebaikan sifatnya, karena menonton film kartun yang umumnya lebih mudah dimengerti daripada film-film dewasa yang terlalu kompleks dan pesan moralnya menjadi bias. Bagaimana tidak, untuk mengikuti isi, alur ceritanya sudah begitu bikin mumet dan belibet sehingga orang yang melihatnya pun perlu konsentrasi berpikir dan akhirnya malah pesan moralnya pun tidak sampai karena sudah capek memikirkan alurnya saja. Apalagi sekarang ini banyak sekali tayangan-tayangan yang sebenarnya tidak layak tayang, karena isi, ucapan, sifat dan sikap yang ditayangkan. Orang dewasa juga tidak harus melulu menonton film “dewasa”. Keseimbangan tontonanlah yang penting.

Singkatnya, kedewasaan seseorang bisa diperoleh dari media apa pun, kartun atau non kartun. Mana yang lebih banyak mengajarkan kebaikan itulah kedewasaan yang sebenarnya. Kalau ternyata kartun lebih banyak mengajarkan kebaikan, kenapa kita harus menolak dan malu akan kebaikan atau diajarkan kebaikan itu hanya karena kebaikan itu dibungkus dengan cover yang terkesan imut dan sedikit kekanakan.