Sekolah dan Ujian Penting atau Tidak?

Posted in: Kuliah,Tren Hidup |

Sekolah itu untuk apa?

Yah, sekolah/universitas itu katanya ‘tempat menimba ilmu‘ tapi fenomena yang terjadi, sekolah/universitas itu akhirnya hanya sekadar ‘tempat mencari nilai‘ bagi siswa/mahasiswa. Hanya suatu formalitas mencari gelar. Tujuannya mencari kerja dengan gelar pada ijazah tersebut. Tapi, sayangnya terkadang gelar itu hanya sebagai pajangan di belakang nama dan ilmu hanya menjadi tumbal dari uang yang telah banyak dikeluarkan selama 16 tahun atau lebih, ilmu yang dilupakan. (dan ketika suatu saat ditanyakan oleh anaknya, orang tua akan bilang lupa padahal juga pernah sekolah, kecuali jika memang tidak pernah dapat).

Anggapan, stigma, atau apapun itu namanya menyebabkan siswa hanya melihat ilmu dari sisi nilai. Berlomba-lomba mematok nilailah yang utama, sehingga ada yang dengan sengaja mengambil jalan pintas, memupuk diri dengan berbuat korupsi nilai dengan cara curang. Yah, sedari dini korupsi sudah menjadi budaya dan bisa jadi karakter. Inti dari ilmu itu sendiri pun terlupakan. Kejujuran hilang karena ‘materi’ berwujud nilai, menjadikan ‘manusia matre nilai’. Stigma jelek ini harus dirubah. Tujuan hidup semasa dini haruslah dirubah. Tujuan sekolah adalah mencari ilmu, itulah yang harusnya dicari, jika ilmunya banyak, nilai itu adalah bonusnya. Sebaliknya, jika ilmunya kurang, maka memang sudah seharusnyalah belajar lagi. Dalam pepatah, cari ilmu sampai ke negeri China. Sekarang ini tanpa perlu ke China, kita bisa mencari sampai ke benua yang lain. Jika tujuan hidup yang diajarkan sudah salah, sekolah untuk mencari nilai, maka yang dicari hanyalah nilai, akhirnya masalah ilmu itu sama sekali non-sense atau bull-shit, jadinya cara nyontek ampuh pun lebih penting. Yang masih muda apakah tidak merasa malu, jika melihat ada seorang yang sudah sangat berumur tetapi tetap masih tekun belajar mencari ilmu?


Sekolah ibarat ‘supermarket’

Semua orang paling suka pergi ke supermarket, tapi mungkin jauh lebih sedikit yang sebenarnya suka pergi ke kampus (dengan sangat sukarela dan ikhlas, tanpa keterpaksaan). Padahal ibaratnya sekolah juga seperti supermarket. Siswa adalah konsumen dan subjek dengan demand, sekolah adalah tempat yang menyediakan supply seperti supermarket, dan ilmu di sekolah adalah objek/barang di supermarket.

Sayangnya, orang terkadang lebih suka menghambur-hamburkan ketika ada uang. Sekolah/universitas bisa juga menjadi tempat menghamburkan uang. Orang ke supermarket untuk membeli barang yang berkualitas (inginnya yang murah tapi berkualitas); mengeluarkan uang untuk mendapatkan sesuatu yang dicari; sesuatu yang dicari dan dinginkan harus melewati quality control. Lucunya, berbeda halnya dengan sekolah. Orang ke sekolah inginnya nilai bagus tapi tidak ingin ilmu. Padahal ilmu itu sebenarnya adalah barang dan nilai adalah quality control dari apa yang kita dapat dan kita terapkan. Kalau diibaratkan akan jadi “mau barang bagus, tapi milih barangnya sambil merem di dalam karung”. Apa ya iya bisa dapat barang bagus sambil merem? Sudah bayar mahal-mahal, kok yang dimau malah ruginya? Nol, kosong, hampa.

Mungkin saja hal ini disebabkan karena siswa memang tidak merasa rugi. Kasarannya, “Toh yang mengeluarkan uang orang tuaku sebagai anak kan cuma pakai saja, lha ini fasilitas, terserah aku aja mau gimana. Mending minta duit buat seneng-seneng aja, itu lebih penting. Masalah orang tuaku bingung nyari duit, banting tulang, sakit, sampai harus korupsi buat nyari duit, yaaa… terserah yang penting aku nggak rugi“. Jika seorang anak itu bijak, mungkin tidak akan menyia-nyiakan. Tetapi bila tidak, apakah anak akan berpikir bagaimana sulitnya caranya orang tua mencari uang? Jika anak itu berasal dari keluarga kurang mampu, mungkin akan bisa jadi lebih bijak. Mereka akan berpikir ulang untuk mengeluarkan uangnya. Bahkan lebih memilih membantu orang tuanya.

Orang jaman dahulu, untuk bisa sekolah saja harus susah. Mahal dan serba terbatas. Kertas mungkin tidak ada, harus pakai sabak, ditulis saat  sekolah, dan dihapus setibanya pulang untuk digunakan esoknya. Makan mungkin masih nasi jagung, dsb. Jauh berbeda dengan sekarang, jaman yang sudah dimanjakan oleh teknologi dan kolesterol. Tapi, banyak yang masih minta enaknya. Kalau dipikir sudah jauh lebih enak dibanding jaman dahulu kan, sabak sudah digantikan laptop, dll.


Ujian itu penting atau tidak?

Kalau masalah ujian itu seneng nggak seneng, orang akan pilih tidak ada ujian. Untuk apa bersusah-susah? Semata-mata itu demi masa depan, orang harus berkompetisi lewat ujian. Menghadapi persaingan global melalui jalur akademik. Kan, sejak SD sudah tahu konsekuensinya kalau sekolah itu harus ujian kan? Terus kenapa masih mengeluh? Ya, kalau memang tidak suka ujian, ya tidak usah sekolah. Uang sekolah bisa ditabung untuk modal usaha yang nantinya bisa sukses, keluarnya uang sekolah kan mahal, daripada rugi ilmu nggak dapat?
Gengsi kalau orang lain sekolah sedang kita tidak? Tidak berarti orang sekolah itu pasti berisi, ada yang sekolah/kuliah demi nilai tapi  ilmunya jauh kalah dengan yang nggak kuliah, ada yang moralnya lebih baik tanpa sekolah. Terus kenapa sekolah kalau setiap kali ujian pasti nyontek, korupsi nilai dan mengurangi moral diri sendiri? Padahal hakekat manusia adalah supaya hari demi hari bisa jauh lebih baik. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dan tidak berusaha untuk hari esok.


Toh kalau mau sukses ada yang nggak perlu kuliah tapi bisa dapat penghasilan dan duitnya milyaran dengan halal? Contohnya Bill Gates yang dropped-out alias DO dari kuliah di Harvard University. Bill Gates DO karena dia melihat kesempatan untuk membuat milyaran uang dari software dan tahu bahwa industri tidak akan menunggunya sampai dia lulus gelarnya di Harvard. Bukan karena dia tidak mampu, tapi karena dia tahu ada kesempatan yang harus digunakan sebaik-baiknya. Ilmu yang dia dapat dengan beberapa teman yang lain juga tidak dia dapat di sekolah, tapi dari hidup, selalu membuat konsep inovatif, menerapkannya, dan selalu memperbaiki setiap kesalahan yang diperbuat untuk menjadi ilmu yang baru.

Kisah lain dari CEO Apple Inc, yang juga co-founder, Steve Jobs. Ikut mendirikan Apple Inc, kemudian mendirikan Pixar Animation Studio dan menjadi bagian direksi The Walt Disney Company mengikuti akuisisi Pixar oleh Disney. Steve Jobs dengan produk Apple yang pastinya tidak dipungkiri lagi dari iPod, MacBook, iPad, dll juga dropped out dari kuliah.

Masih banyak lagi contoh kisah orang yang tanpa harus kuliah namun mampu sangat sukses di hidupnya. Jadi mana jalan hidup yang kamu pilih? Tetap menyia-nyiakan kuliah dan mengisi kuliah dengan keluhan tentang ujian (apalagi masih ditambah contekan pula) dan ilmu yang didapat atau mulai berkreatif dan berinovasi, mengambil kesempatan (dengan halal tentunya) untuk meraih sukses yang lebih besar? Harusnya yang kuliah bisa sukses dibanding yang tidak kuliah. Tunjukkan dirimu sebenarnya! Ganbatte ne! :)




Comments

There is one comment


  1. xil3m says:

    Memang. Sekarang ini, susah sekali mencari seseorang yang bersekolah atau kuliah dengan tujuan utama mencari ilmu. karena mayoritas orang-orang di jaman ini, khususnya di Indonesia bersekolah yang dipentingkan adalah “nilai”. Mereka tidak berfikir ilmu apa yang seharusnya aku dapat, tetapi mereka lebih berfikir dan beropsesi terhadap” Nilai berapa yang bakal aku dapat. Ambisius mereka untuk mendapatkan nilai bagus dan tinggi jaman sekarang tidak mengherankan lagi. Makanya tidak jarang saya lihat banyak orang yang nilai kuliahnya tinggi, tetapi otak mereka tentang ilmu yang di dapatkan hanyalah “kosong” belaka. sering bolos kuliah, tetapi IPnya tinggi di kampus saya “tidaklah mengherankan lagi. Sewaktu SMA, banyak anak yang tidak belajar saat ujian , tetapi malah begadang membuat contekkan disaat nilai hasil ujian keluar, anak-anak yang menyontek itulah yang keluar dengan nilai tertinggi. Melihat keadaan yang seperti itu anak-anak yang sekolah untuk belajar dan menimba ilmu, jadi merasa Drop dan putus semangat.Ini tidaklah adil:” Kenapa mereka dengan cara yang begitu mudah, bisa mendapat nilai tinggi, Sedangkan aku yang mati-matian belajar semalamman nilaiku hanyalah pas-pasan saja?????” INI TIDAK ADIL…!!!



Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart