Sebuah kejujuran dan cerita dibalik Seleksi Masuk UB

Posted in: Diariku,Website & Blog |

Tahun ini seperti tahun kemarin saya menjadi developer untuk Seleksi Masuk (Selma) UB. Banyak hal yang saya rasakan terutama karena tahun lalu itu baru pertama kalinya saya mengurusi suatu sistem informasi online dengan hit yang banyak. Perasaan takut karena belum pernah menangani dan mengurus web aplikasi seperti itu yang notabene ‘single fighter’ dalam masalah mulai dari desain, database, aplikasi, serta server, -kecuali masalah jaringan- meski juga dibantu oleh Pak Wiwid, yang dulu beliau adalah dosen saya dan sekarang menjadi kerabat kerja dalam satu instansi serta bantuan bapak dan ibu di Rektorat dengan feedback-feedback untuk mengembangkannya supaya lebih baik. Selma ini sendiri sebenarnya terdiri dari dua website yang berbeda, front-end site yang dilihat khalayak umum serta administration site untuk mengadministrasi, memvalidasi, dsb. Di sinilah ketakutan dan kejujuran menjadi emosi yang menyertai saya.

Ketakutan

Ketakutan saya waktu itu adalah bila aplikasi yang ber-buggy dan yang terbesar adalah no pendaftarannya yang salah/double untuk semua jalur masuk, data yang tidak tersimpan baik, server yang down karena banyaknya hit (karena belum pernah mengurusi server), dsb. Hal ini karena saya sendiri yang memperbaiki bila ada kesalahan dan error/bug, sempat juga yang awalnya sudah benar walau dengan sedikit salah akhirnya malah jadi banyak dan stres juga memikirkannya. Terkadang ada yang sampai berhari-hari pusing karena nggak nemu dimana salahnya. Memang sulit untuk mencari kesalahan dan mereproduksi kesalahan yang sama, karena tiap komputer pasti berbeda-beda, ada satu yang bisa dan yang lain tidak bisa. Kompatibilitas browser serta versinya sangat mempengaruhi dan Internet Explorer (IE) yang paling banyak tidak kompatibel, dari masalah desain serta Javascript. Masalah yang sepele di IE, kelebihan satu karakter acak karena salah edit, bisa menyebabkan IE langsung error dan web Selma tidak bisa dibuka sama sekali, berbeda dengan di Mozilla Firefox dan Chrome yang masih sukses tanpa kendala. Tetapi ketakutan itu sedikit-sedikit mulai hilang seiring waktu. Tetapi tahun ini pun terulang lagi, perubahan database, kode aplikasi, alur business process, business rule, menjadi momok bila sewaktu-waktu terjadi kesalahan. Inginnya menyederhanakan, tetapi bagaimana pun juga, sulit mengedit bila  aplikasi sudah mulai  kompleks. Apalagi sekarang pekerjaan sudah mulai menumpuk sehingga harus bagi-bagi waktu.

Kejujuran

Terlepas dari masalah teknis, masalah non teknis pun menyertai. Masalah kejujuran. Bagi orang-orang yang mengenal dan tahu atau setidaknya pernah ‘mendengar’  saya, tidak jarang mempunyai pandangan yang agak gimana gitu. Yah, masalah klasik, nepotisme. Beberapa pandangan atau stigma yang berhubungan dengan nepotisme ikut menyertai saya pula. Dengan status sebagai dosen (masih dengan status sebagai Tenaga Pengajar sih karena belum PNS dan sebenarnya belum layak disebut dosen karena belum bergolongan IIIc), pastilah ada yang beranggapan bila saya mengenal mahasiswa, mahasiswa yang diterima itu dihubung-hubungkan dengan saya atas pencapaian dia. Ya singkat istilahnya “main belakang” dengan pikiran-pikiran seperti “Ah, dia kan kenal sama xxxx [red. saya] karena dosen di situ, makanya dia bisa keterima.” Padahal itu tidak benar! Saya sendiri berusaha untuk jujur, siapapun dia, saya berusaha untuk objektif. Walau dia keluarga saya, pacar dan keluarga saya, teman saya, siapapun itu. Jadi bukan berarti karena saya sebagai dosen, terus bisa seenaknya memasukkan siapa saja sebagai mahasiswa, atau yang lainnya. Semua itu salah!

Di keluarga saya (dengan kedua ortu sebagai dosen dan kakak dokter), sejak dulu dibiasakan untuk jujur. Ortu biasanya melatih ketika saya masih kecil dengan cara menaruh uang di meja, dan saya pun juga tidak berani menyentuhnya. Hingga sebesar ini juga akhirnya tidak begitu menyukai uang hehehe, tetapi bagaimanapun ya namanya orang hidup pasti membutuhkan uang, tapi saya berusaha untuk mencari uang dengan cara yang halal dan memberi berkah. Begitu juga dalam hal pelajaran, saya berusaha untuk tidak menyontek dan memberi contekan. Seburuk apapun nilai saya, juga saya terima, karena niat yang saya cari adalah ilmu bukan nilai. Terakhir yang saya ingat kalau saya melirik teman waktu ulangan ketika saya masih SMP kelas 2, berarti kalau sekarang 2010 jadi kira-kira sudah 11 tahun lalu, setelah itu tidak pernah lagi (insyaAllah).

Semoga saja kejujuran ini selalu terpelihara dan menurun hingga nanti. Semoga saja nanti bisa jauh lebih baik lagi. Amiinn…




Comments

There are 2 comments


  1. yusuf faris says:

    halo salam kenal saya yusuf faris mahasiswa elektro 2005

    kebetulan saya juga lagi nyoba2 jadi web desainer.

    Desain selma nya bagus, beda dari desain2 web yang ada di brawijaya

    uda lama saya nyari2 sapa yang bikin desain selma,ternyata baru hari ini ketemu link nya nyumpil pojok kanan bawah ^^

    salam kenal



  2. Adikara Putra (Hikaru Yuuki) says:

    Halo juga mas Faris, salam kenal juga…
    Wah mau jadi web desainer jg ya… saya sebenarnya bukan benar-benar web designer tapi programmer, tapi yaa….karena suka gambar2, edit2 sejak kecil yaaa…sayang kalau kebuang ilmunya :)

    Makasih ya atas pujiannya hehehe.alhamdulillah dapat pujian,soalnya ngerjainnya serabutan, dari ngoding, database, server, sampai desain (hampir) smuanya saya sendiri.
    Tapi tahun depan selmanya nggak lagi seperti itu, karena bukan saya lagi yang pegang.



Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart