Kekerasan Artis ke Wartawan, Gosip dan Fitnah

Posted in: Tren Hidup |

Setelah mendengar berita tentang Ahmad Dhani yang berbuat tidak baik ke wartawan salah satu TV swasta nasional hingga menyebabkan rusaknya microphone, jadi berpikir-pikir, salah siapa?

Sebetulnya bila dirunut-runut, semuanya bisa dibilang salah. Ahmad Dhani gerah karena kerap digosipkan yang miring oleh media cetak dan televisi, saking gerahnya akhirnya darah pun mungkin bisa sampai di ubun-ubun. Sebenarnya siapa yang tak bakal gerah bila digosipkan miring apalagi kalau sudah memasuki area privasi. Tidak perlu artis, orang biasa saja bila digosipkan yang tidak baik atau salah paham saja bisa berkelahi sampai saling bunuh. Padahal gosipnya mungkin beredar di sekelumit orang saja, itu saja yang sudah malu sekali karena gosip yang tidak benar. Bagaimana bila gosip itu menyebar di seluruh Indonesia dan gosip itu disebarkan dengan cara ditayangkan dan diperbincangkan berulang-ulang berhari-hari dari pagi sampai malam? Imbasnya pasti besar untuk seseorang yang notabene hanya manusia biasa yang bisa marah dan jengkel.

Manusia diberi kesabaran yang terbatas dan juga tidak terbatas. Mempunyai batas puncak kesabaran tapi kesabaran itu selalu ada seumur hidup dan tidak akan pernah habis untuk masalah-masalah lain yang selalu timbul. Memang susah untuk bersabar dan harus pandai-pandai me-manage. Seharusnya orang lain juga menghargai hal tersebut dengan cara tidak memancing kemarahan orang lain. Sayangnya, banyak orang yang tidak tahu cara untuk menghargai orang lain dan  tidak memancing kemarahan orang lain, tertutup silaunya uang dan rating.

Islam mengajarkan untuk tidak terpengaruh akan gosip dan tidak melakukan ghibah, hanya saja Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam, media-medianya malah memasyarakatkan gosip dan ghibah.

Disunting dari Wikipedia, Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Lihat saja, setiap hari media cetak dan televisi selalu menayangkan acara gosip, menggunjing, dll padahal sudah jelas-jelas hal itu dilarang dalam Islam. Banyak orang yang menolak tentang gosip masalah Liberalisasi Barat ketika masa-masa pilpres kemarin, tetapi mereka malah menerima acara-acara gosip yang kebanyakan mencontoh hasil dari Liberalisasi Barat.

Privasi bukanlah konsumsi publik! Banyak yang berdalih orang ternama itu lahir karena pers, tanpa pers tak ada selebritis, menganggap pers itu layaknya ibu kandung selebritis. Tapi bukankah anggapan itu salah! Tak ada ibu kandung yang memfitnah anaknya sendiri, yang ada malah menjaga, mengajarkan kebaikan, dan anaknya selalu dibanggakan ke orang lain. Sedangkan media dan pers seringkali “membocorkan” hal privasi seperti tentang perceraian, masalah rumah tangga, dan hal-hal yang tidak baik lainnya. Hasilnya malah orang-orang yang melihat, membaca, menonton media jadi mengecap buruk, menghina, dsb orang yang digosipkan, ibaratnya sudah jatuh masih tertimpa tangga. Sudah mengalami kemalangan, tapi masih saja disebar-sebarkan berita buruk tentangnya dan dicap yang tidak tidak  oleh masyarakat.

Seharusnya hal ini menjadi hal yang dianggap serius. Tidak hanya berkata “memfitnah itu lebih kejam daripada membunuh”, tapi tetap bergosip dan memfitnah dan menonton acara gosip. MUI, ormas Islam, atau pihak-pihak yang berwenang harusnya bergerak untuk masalah ini. Menghentikan kezaliman-kezaliman yang diakibatkan ghibah, mungkin saja setidaknya membatasi jumlah acara gosip dan sebagainya. Pers atau media sudah seharusnya memandang dari segi keIslaman, ajarannya  yang baik, fiqh, hukum syariat, dsb. jangan sampai  malah tidak memandang sama sekali. Lebih bijak memilah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh sesuai hukum, bukan memilah berdasarkan karena uang dan rating. Toh Surga dan Neraka terbuka dengan cara tidak akan menimbang dari segi rating dan uang.

Semua kembali ke diri kita sendiri, mau jadi manusia seperti apa kita ini, dihadapkan sebuah pilihan untuk menjadi manusia bijak dan berkebajikan. Semoga setelah bulan Ramadhan ini, kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Amin ya rabbal alamin….




Comments

There are 3 comments


  1. shun says:

    betul kata aa gym

    infotainment emang makan uang haram



    • Adikara Putra (Hikaru Yuuki) says:

      Hehehe…tapi gimana2 kok ya banyak banget yg “ikut menikmati uang haram”. Ibu-ibu biasanya suka nonton e :D
      Padahal benar-benar bukan tontonan yang baik, bahkan karena inginnya si Ibu nonton, si Anak tidak bisa nonton kartun, malah dipertontonkan acara gosip yang notabene tidak baik untuk perkembangan sang Anak. Hadeeww… yare yare…



  2. shun says:

    TII man..

    This Is Indonesia, so sad..



Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart