Forwarded: Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup-Mengemis itu “halal”

Posted in: Diariku |

Berikut ini saya dapat dari email yang diforwardkan ke saya tentang berita di koran Jawa Pos dimana Bos Pengemis menikmati hidup, setelah mengemis lamaaaa sekali.

From: Arief_tok
To: candra dewi
Sent: Tuesday, June 17, 2008 11:26:39 AM
Subject: Balasan: Fw: [ntust-isa] Fwd: Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup

Kata ‘Cak To’ Mengemis = HALAL…??? (woow…keyeennn)
Berikut ini Sabda Nabi tentang mengemis :

“Sungguh salah seorang diantara kalian pergi mencari kayu bakar dan dipikulkan ikatan kayu itu di punggungnya,maka itu lebih baik baginya dari pada ia meminta-minta kepada seseorang baik orang itu memberi ataupun tidak memberinya.”
[HR.Al-Bukhary(4/2073/Alfath.), Muslim(2/zakat/721),dan An-Nasa’y(5/2573),dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-].

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa meminta-minta kepada manusia sementara ia memiliki kemampuan maka ia datang pada hari kiamat dengan bekas cakaran atau garukan di wajahnya”. Ada yang bertanya, “Apakah batas kecukupan itu ya Rasulullah?” Beliau berkata, “50 dirham atau emas yang seharga dengan itu.”
[Shahih, Abu Dawud 1626, Tirmidzi 650, Nasa’I V/97, Ibnu Majah 1840, Ahmad I/388 & 441, Ad Darimi I/386]

Dari Sahl bin Hanzhaliyah, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa meminta-minta sementara ia memiliki kecukupan maka sesungguhnya ia sedang memperbanyak bagian dari neraka. Ia [Sahl] bertanya, “Apakah batasan kecukupan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkata, “Sekedar kecukupan untuk makan siang dan makan malam.”
[Shahih, Abu Dawud 1629, Ahmad IV 180-181, dari Rabi’ah bin Yazid dari Abu Kabsyah Al Alawi]

Rasulullah -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda: “Hai Qabishah,sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang,
Pertama, orang yang sedang menanggung beban (denda, hutang dansebagainya) maka ia boleh meminta sampai ia melepaskan tanggungan(beban)itu.
Kedua, seseorang yang tertimpa kecelekaan/musibah yang menghabiskan hartanya, maka ia boleh meminta-minta sehingga ia bisa memperoleh kehidupan yang layak.
Ketiga, seseorang yang sangat miskin,sehingga disaksikan oleh tiga orang cerdik pandai dari kaumnya bahwa”si fulan benar-benar miskin”maka ia boleh meminta-minta sehingga ia bisa memperoleh kehidupan yang layak. Hai Qabishah, meminta-minta yang selain karena tiga sebab ini maka itu adalah usaha yang haram, dan orang yang memakannya berarti makan barang yang haram.”

[HR.Al-Bukhary(3/1479/Al-Fath.), dan Muslim (2/zakat/719).

“Seseorang diantara kalian akan selalu meminta-minta sehingga ia nanti bertemu dengan Allah sedangkan mukanya tidak ada daging sama sekali,”
[HR.Al-Bukhary (3/1474/Al-Fath.) dan Muslim(2/zakat/720),dan Ahmad(2/15) dari sahabat Ibnu ‘Umar -radhiyallahu anhu- ).

“Barang siapa yang meminta-minta kepada sesama manusia dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya,maka sesungguhnya ia meminta bara api.Terserah padanya apakah ia mengumpulkan sedikit saja atau akan memperbanyaknya.”
[HR.Muslim(2/zakat/760), Ibnu Majah(2/1737),Ahmad didalam Musnadnya(2/231), dan Al-Baihaqy dalam Sunannya(4/196), dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- )

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang miskin itu bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia, lalu ia diberikan sesuap, dua suap, sebuah dan dua buah kurma. Para sahabat bertanya: Kalau begitu, siapakah orang miskin itu, wahai Rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang tidak menemukan harta yang mencukupinya tapi orang-orang tidak tahu (karena kesabarannya, ia menyembunyikan keadaannya dan tidak meminta-minta kepada orang lain), lalu diberi sedekah tanpa meminta sesuatu pun kepada manusia.
(HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad bin Hambal, Malik dan Ad Darimi)

Hayooo… anda ikut pendapatnya siapa… pendapatnya cak to atau sabdanya Nabi..????
(email di edit sedikit )

Cak To bilang tahun depan dia mau menunaikan Haji, saya sendiri jadi pikir-pikir, bukannya saya menghakimi orang lain tentang yang berhubungan dengan syari’ah dan aqidah…tapi masa menunaikan Haji dengan harta yang bisa dikatakan ‘tidak jelas’. Apa kata dunia dan akhirat??




Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart