Film Kartun, Kedewasaan dan Kekanakan

Posted in: Kesehatan & Medis,Tren Hidup |


Happy Tree Friends - Kartun Imut Tersadis

Happy Tree Friends - Kartun Imut Tersadis

Fenomena yang merambah kalangan mahasiswa terutama cowok yang terkadang bikin geleng-geleng adalah menonton film kartun atau anime (kartun Jepang). Kenapa tidak, kartun pasti digolongkan sebagai tontonan anak-anak, apabila seseorang yang menginjak dewasa dengan patokan umur seperti mahasiswa atau bahkan lebih tua menonton anime pasti akan dianggap orang itu kekanak-kekanakan. Beda lagi apabila orang itu melihat film-film non kartun, pasti akan dianggap tidak kekanak-kanakan, apalagi bila menonton tayangan “dewasa” akan dianggap wajar dan dalam benak “wah, ternyata sudah gedhe n dewasa nih orang”.

Persepsi, pandangan, patokan kedewasaan orang terkadang bisa salah bila melihat hanya dari satu sisi, umur berapa dan apa yang ditonton. Intinya seperti kalimat mutiara klasik “don’t judge the book by its cover”.

Bila anak kecil menonton anime maka dianggap wajar. Padahal belum tentu hal itu wajar, anime juga ada yang diperuntukkan orang dewasa, dengan konten yang biasa disebut ecchi atau hentai. Sekilas, apabila kita tidak benar-benar mengontrol tontonan anak-anak kita, bisa saja yang ditonton itu ternyata hentai, walau dengan balutan kartun. Intinya, tidak semua kartun bisa dikonsumsi oleh anak-anak hal ini dikarenakan perbedaan kultur, sosial, agama, sejarah, dan berbagai perbedaan lain di negara pembuat film kartun tersebut. Konten mana yang dapat ditonton, berisi kekerasan kah, berisi kevulgaran kah, ucapan-ucapan tak semestinya kah, sudah seharusnya menjadi tugas orang yang lebih dewasa lah untuk mendampingi anak-anak dalam menonton film kartun yang akan menentukan perkembangan mental anak.

Remaja yang dalam peralihan biasanya mulai meninggalkan film-film kartun dan beralih ke arah film non kartun. Di masa ini mereka biasanya berusaha mengeksplorasi apa yang ada di luar sana. Mulai menginjak ke dunia realita dan meninggalkan dunia fantasi mereka. Hal ini sebenarnya wajar-wajar saja. Kewajaran ini tapi bila tidak dikontrol juga bisa menjadi ketidakwajaran. Mulai sembunyi-sembunyi mencari tahu, ada apa di dunia nyata, ada apa di dunia orang dewasa. Tidak sedikit remaja yang sudah mengenal tentang blue film atau hentai ketika menginjak masa-masa SMP. Oleh karena itu, filter kultur, sosial, dan agama sangatlah penting supaya tidak kebablasan di usia rawan ini.

Always Sunset on 3rd Street (Always Zoku San Chome no Yuuhi) - Film Sarat Kehidupan Adaptasi Komik dari Ryōhei Saigan

Always Sunset on 3rd Street (Always Zoku San Chome no Yuuhi) - Film Sarat Kehidupan Sederhana dan Miskin Rakyat Jepang Adaptasi Komik dari Ryōhei Saigan

Usia dewasa biasanya benar-benar jarang menonton bahkan sebagian menolak menonton film kartun. Merasa sudah dewasa dan tidak sesuai lagi dengan umurnya, mereka pun mentah-mentah menolak tanpa menelaah. Justifikasi dini seperti inilah yang bisa dibilang salah. Bila ditelaah film kartun itu lebih mudah dimengerti, sederhana, lebih sarat pesan moral, tidak berbelit-belit (seperti sinetron), cerah penuh warna di mata, dan banyak kartun yang menyenangkan dan lucu-lucu. Seseorang bisa lebih terbentuk kedewasaannya, kebaikan sifatnya, karena menonton film kartun yang umumnya lebih mudah dimengerti daripada film-film dewasa yang terlalu kompleks dan pesan moralnya menjadi bias. Bagaimana tidak, untuk mengikuti isi, alur ceritanya sudah begitu bikin mumet dan belibet sehingga orang yang melihatnya pun perlu konsentrasi berpikir dan akhirnya malah pesan moralnya pun tidak sampai karena sudah capek memikirkan alurnya saja. Apalagi sekarang ini banyak sekali tayangan-tayangan yang sebenarnya tidak layak tayang, karena isi, ucapan, sifat dan sikap yang ditayangkan. Orang dewasa juga tidak harus melulu menonton film “dewasa”. Keseimbangan tontonanlah yang penting.

Singkatnya, kedewasaan seseorang bisa diperoleh dari media apa pun, kartun atau non kartun. Mana yang lebih banyak mengajarkan kebaikan itulah kedewasaan yang sebenarnya. Kalau ternyata kartun lebih banyak mengajarkan kebaikan, kenapa kita harus menolak dan malu akan kebaikan atau diajarkan kebaikan itu hanya karena kebaikan itu dibungkus dengan cover yang terkesan imut dan sedikit kekanakan.




Comments

There are 10 comments


  1. sherry says:

    yuuuup…anda bener…makanya saia slalu protes2 kalo ada orang tua yang menyalahkan ‘anime’-nya ketika anaknya nonton tu pilem…yang salah seh emang media Qta yawh yang uda kadung membranding bahwa semua tayangan anime (ato biasa disebut kartun ma orang indonesia yang maen pukul rata) itu tontonan anak2

    jangan2 karena itu yawh jarang2 anime keren2 bisa tayang disini…huuuhuuuu…banzai!



  2. Adikara Putra (Hikaru Yuuki) says:

    @Sheila:
    Satu lagi mahasiswa yg ngisi comment hehehe.makasih ya…
    Ya mau gimana lagi, justifikasi dini yang salah memang nggak bisa dihindarkan kalau sudah ada persepsi yang salah sebelumnya. Membentuk persepsi yang benar memang susah-susah gampang. Film-film kartun padahal banyak yang mendidik,tapi orang tua malah jarang mempertontonkannya ke anak-anaknya, malah yang disetel sinetron Inayah, dan sebagainya (seperti sinetron mistis,klenik, dan penuh kekerasan dan bentakan), yang jelas-jelas isinya tidak baik untuk pertumbuhan sang anak.
    Yah…tergantung pandangan dari orang-orangn dewasa yang perlu diberi point-of-view yang berbeda.supaya kesalahan justifikasi tidak terjadi.giliran yang muda-muda yang memberi pengertian kepada orang yang lebih tua tentang hal ini dengan cara yang baik dan sopan.



  3. elvira says:

    what a perfect blog this is. sukak banget kak sma blognya, apalagi all japanese stuff. hhe.
    kalo boleh vira pengen kenal lebih deket nih sma kk, soalnya ada beberapa hal yang pengen aku tanya2. haha, abis chatnya ga dbles :( hihi.
    nice to meet u :)



    • Adikara Putra (Hikaru Yuuki) says:

      Hehehe…makasih ya sudah mampir… :)
      tapi ya begitu…sekarang sudah jarang menulis-nulis, nggak ada kontributornya hehe.. :D
      Hee? waktu itu kayaknya nggak ada chat yang masuk tuh.tapi nggak tahu juga ya…mungkin waktu itu laptopnya aku matiin, n belum aku sign out, jadi kelihatannya masih online.
      Nice to meet you too :)



  4. Erick pradana says:

    IH..lucu ya mas, mmg bener sich..apa kata mas……blh ya…belajar…ma mas…..
    kita bisa berbagi okey…..tp aq penelitian masalah pribadi orang



  5. Adikara Putra (Hikaru Yuuki) says:

    hehe…iya, namanya manusia juga saling belajar.ya itulah gunanya hidup.kita2 sama-sama belajar n berbagi
    smoga bisa membantu… :)



  6. andrianie says:

    Saya setuju dengan apa yang kk tulis. Bukan berarti orang dewasa yang suka film kartun pikirannya masih seperti anak kecilkan?!



  7. andrianie says:

    Bner… banget! saya setuju dengan tulisan yang kk buat.
    bukan berarti orang dewasa yang suka nonton film kartun masih seperti anak kecil.



    • Adikara Putra (Hikaru Yuuki) says:

      wah…ternyata commentnya masuk ke spam..maaf ya…nggak tahu nih kok ternyata masuk spam.
      iya…stigma orang seperti itu, padahal bukan berarti itu malah nggak bikin dewasa, tapi bisa jadi malah kebalikannya.ngapain jadi “dewasa” n “kedewasan-dewasaan” kalau ternyata nggak bisa berbuat baik (malah bukan dewasa namanya kan?), mending kyk “anak kecil” tapi nggak “kekanak-kanakan” yang polos n bisa lebih banyak berbuat baik.



  8. rico says:

    ane setuju banget tu…
    tapi ada yang ane kurang setuju gan.
    anime bukanlah kartun
    anime adalah seni dan budaya (menurut ane)



Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart