Breaking the Law, our tradition?

Posted in: Tren Hidup |

Sabtu, 11 Agustus 2007 00:49 (ni waktu aslinya lhe hehehe lambat posting )
Listening to ~ Ivan Anguelov, Slovak Radio Symphony Orchestra – Ceska Suita (Bohemian Suite) in D Minor Op. 39 – Finale

Akhirnya setelah melihat cuplikan programme Metro TV Snapshot Jumat, 10 Agustus 2007 tergerak juga untuk menulis uneg-uneg yang sudah lama terganjal. Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis, tapi karena sibuk dengan urusan skripsi S1-ku yang akhirnya Alhamdulillah selesai dengan nilai memuaskan, akhirnya baru sekarang ini ‘mau’ menulis. Bukannya aku orang yang suka menulis, -malah sebaliknya aku termasuk orang yang tidak suka dengan paper-working, selama kuliah bisa saja dalam satu semester tidak menuliskan apapun dalam buku atau malah pertanyaannya ‘apa aku punya buku?’ hahaha -, tapi untuk mengutarakannya mungkin akan lebih baik secara tulisan daripada lisan yang dapat terlupakan. Wah… wah… kembali ke topik awal saja deh, lama-lama bisa keluar dari topik yang mau aku utarakan.

Kita hidup di negara hukum, hidup di masyarakat yang diatur dengan hukum. Kata ini sebenarnya ada dimana-mana sejak dulu hingga sekarang, hanya saja karena mungkin kebanyakan orang menganggap kata itu hanya sebagai istilah belaka maka sampai-sampai ada ungkapan ‘hukum ada untuk dilanggar’. Bahkan ketika ada orang yang mematuhi hukum dan aturan, kadang-kadang orang itu malah direndahkan. Tidak hanya itu, kadang-kadang pula orang baik yang tidak mengikuti arus juga direndahkan, dianggap kuno, expired, dan sebagainya. Terkadang juga berpikir jangan-jangan sekarang ini mereka menjadi kaum minoritas yang di-‘diskriminasi’-kan oleh masyarakat hukum mereka sendiri.

Kita dapat melihat banyak sekali pelanggaran hukum di mana-mana. Mungkin terkadang mereka yang melanggar menganggap sepele karena mungkin hal yang mereka langgar sudah biasa dilakukan. Contoh mudahnya saja, di Malang ini, di perempatan jalan Veteran, pasti dapat kita lihat angkutan kota yang harusnya menggunakan lajur kanan karena akan berbelok ke kanan, tetapi mengambil lajur kiri, begitu pula sepeda motor . Hal ini tentu saja malah membuat semakin macet, karena kendaraan yang berbelok ke kiri menjadi terhambat. Tidak berhenti begitu saja, sepeda motor serta angkutan kota juga selalu berhenti jauh di depan, hingga traffic-light berada di belakang mereka. Lucunya (yang membuat aku geram sekali melihatnya), mereka akan melaju setelah di-klakson. Dan hal yang lebih lucu lagi dan membuat miris, di situ terdapat Pos Polisi, yang dulunya sampai-sampai dalam launching nya mengundang petinggi-petinggi kepolisian hingga menutup badan jalan. Terus, apa gunanya Pos Polisi tersebut?? Menghambur-hamburkan uang, tidak mengoptimalkan pekerjaan juga. Kalau penegak hukum juga tidak menegakkan hukum yang mereka anut apalagi yang merasa tidak menegakkan hukum seperti orang kebanyakan ~maaf bagi yang tersindir ~.

Tidak kah mereka merasa malu, bersalah, dan sebagainya atas pelanggaran mereka? Aku rasa jawabannya tidak! Kenapa? Karena di antara mereka juga banyak yang mendukung. Orang akan berani melanggar apabila banyak yang mendukung (baca: ikut-ikutan melanggar) dan mengesampingkan rasa malu mereka. Itulah sebabnya tidak salah apabila mereka dikatakan sebagai pengecut dan rai gedhek. Coba buat skenario, dimana ketika tidak ada orang yang melanggar, tempatkanlah orang yang hobinya melanggar. Apa yang orang itu lakukan? Pasti dia akan segan melanggar bila tidak ada temannya. Beda lagi kalo orang itu memang rasa malunya serta otaknya udah mati sejak lahir, ga bakal segan-segan melanggar dan senang-senang saja dicerca orang-orang sekitar.

Then, apa yang harus dilakukan untuk bisa membangun masyarakat taat hukum? Hal itu sangat susah sekali, tidak dalam jangka waktu beberapa tahun, beberapa generasi saja mungkin juga masih sulit sekali. Hanya saja, lebih baik dan harusnya kita tidak melihat kata susah tersebut, nothing is impossible if we try. Ada baiknya kita mulai dari lingkup kecil yaitu diri sendiri dan keluarga serta dari hal yang sederhana. Membiasakan dan mengarahkannya untuk taat hukum dan aturan kepada anak atau generasi muda. Mulailah dari memberikan contoh baik, dan apabila di lingkungannya ada yang melanggar aturan beri penjelasan kepada mereka agar jangan meniru perbuatan yang salah atau buat juga aturan jika mereka meniru, beri sanksi sendiri kepada mereka.
Jarang ada orang tua memberikan penjelasan dan pengarahan kepada anaknya. Malah sebaliknya, memberikan contoh buruk. Seringkali aku lihat, orang tua pulang menjemput dari sekolah dengan membonceng anaknya dan mereka melanggar lalu lintas di traffic light. Lha, kalo dari kecil saja anak itu dikenalkan (simple-nya diperlihatkan) melanggar lalu lintas, gimana besarnya? Kalau anak itu punya kesadaran dan tidak mencontoh orang tuanya, berarti Allah SWT menganugerahinya dengan akal pikiran yang harus dilestarikan sebagai plasma nutfah.
Sedari kecil ada baiknya orang tua mengajarkan anak-anaknya tidak terlalu menggantungkan cita-cita ke anak-anaknya misalnya untuk menjadi dokter, presiden, direktur, atau hal-hal yang mereka belum pahami. Jangan menggantung harapan yang dapat menjadi beban berat bagi anaknya di masa depan. Ajarkanlah untuk menjadi manusia yang baik dan tidak menyusahkan dan mengganggu yang lain. Ada tidak anak yang ditanya ‘Dek, apa cita-citanya?’, dia akan menjawab ‘Menjadi orang jujur, baik, dan berguna?’. Aku rasa hampir tidak ada. Pasti jawabnya dokter, direktur, presiden, dan lain-lain. Jika dari kecil tidak diarahkan menjadi orang baik, bisa-bisa besarnya jadi presiden dan direktur korup, dokter aborsi, dan profesi lainnya yang tidak membawa berkah bagi manusia lainnya. Ada penelitian dimana orang tua di Indonesia terlalu mengharapkan anaknya menjadi orang-orang sukses dan kaya, dibandingkan orang tua di Jepang yang mengharapkan anaknya yang menjadi orang baik. Impact-nya, anak-anak kebanyakan dari kecil menjadi terdorong kuat untuk menjadi pemenuh dan pemuas harapan orang tuanya. Lha kalau sudah begini, andaikata si anak kurang mampu maka dia akan mengenal apa yang namanya jalan pintas, yaitu mencontek yang termasuk pelanggaran, pembentuk awal jati diri korupsi.

Berilah contoh dan tauladan yang mudah dimengerti dan dipahami senyampang masih kecil, jangan bebani otak mereka dengan hal-hal tidak berguna, sehingga otak mereka dapat mengolah dan berpikir, apakah yang mereka lakukan itu mengganggu orang lain, membahayakan diri sendiri dan orang lain, dan sebagainya. Buat otak mereka otomatis berpikir secara reflek, seimbangkan otak, perasaan dan pikiran. Begitu mereka mengetahui, terbiasa, dan mentaati hukum, mereka akan menjadikannya itu sebagai prinsip hidup. InsyaAllah kita akan menghasilkan generasi yang lebih baik dan taat hukum. Amien…

P.S. Tidak ada pemimpin yang lebih baik, tidak ada pemimpin yang sempurna, selain kita sendiri. Jangan pernah menunggu orang lain membuat terobosan, jangan pernah menunggu orang lain bertindak, mulailah dari diri sendiri untuk menjadi yang pertama dan memberi contoh kepada yang lain. Jika tidak puas dengan kinerja orang lain, tunjukkanlah kalau kita lebih baik, buktikan! Jangan cuma omong besar dan cuma bisa mendemo. Ingat, Tong Kosong Nyaring Bunyinya!!

 




Speak Up!

Leave your own comment

Notify me of follow-up comments via e-mail (or subscribe here).




 

Share

Subscribe Feed

Email

Facebook

Twitter

Delicious

Digg

StumbleUpon

Google Buzz

Deviantart